SD IT Rabbani- Jika liburan identik dengan rehat atau berwisata untuk melepas penat, berbeda halnya dengan para dan calon tenaga pengajar SD IT Rabbani. Bekerja sama dengan Departemen Pendidikan DPP Wahdah Islamiyah, pihak sekolah menggelar Diklat Guru dengan tema “Merancang Administrasi Pembelajaran yang Sesuai dengan Tantangan dan Semangat Kurikulum 2013”. Kegiatan ini berlangsung di gedung SD IT Rabbani selama dua hari penuh (8-9/7) dengan menghadirkan dua narasumber, Ustadz Nuzul Haq, S. Pd dan Ustadzah Dia Arizah, S. Si., GR. Keduanya adalah trainer sekaligus pasangan suami-istri yang concern di dunia pendidikan dengan jam terbang yang cukup tinggi.
Anggota Departemen Pendidikan Wahdah Islamiyah DPD Bone, Ustadz Ahmad Dhohir, S. Pd., M. Pd., turut hadir mewakili Ketua Yayasan Ibnu Qayyim. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa tugas seorang guru cukup berat. Beliau menukil perkataan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah yang menegaskan bahwa, hasil didikan tidak akan terlihat dalam rentang 2-3 tahun saja, melainkan 20 tahun mendatang. Sementara di sisi lain, masyarakat umumnya menuntut hasil dalam waktu yang lebih singkat.
“Menuntut ilmu syar’i (agama) hukumnya wajib sesuai kebutuhan. Dalam ilmu dunia juga seharusnya demikian. Jika anak-anak hanya bisa menguasai pelajaran tertentu, jangan dipaksakan harus bisa menguasai pelajaran yang lain,” terangnya lebih lanjut. Beliau juga berharap melalui diklat ini, para guru mampu membuat rancangan pembelajaran yang baik.
“Dan kunci rancangan pembelajaran yang baik adalah, orang lain juga bisa melaksanakan rancangan yang ia buat tersebut,” pungkasnya.
Tema kurikulum 2013 (K.13) yang diangkat dalam pelatihan bukan lagi hal baru bagi para guru. SD IT Rabbani sendiri telah memasuki tahun kedua pelaksanaan K.13 dalam pembelajaran, khususnya di kelas 1 dan 4. Meskipun penerapannya masih bertahap dan revisi terus dilakukan, kurikulum 2013 diharapkan lebih mampu menjawab tantangan pendidikan abad ke- 21. Ustadzah Dia Arizah juga memaparkan bagaimana penguatan pendidikan karakter serta literasi yang terintegrasi dalam kurikulum ini, sangat dibutuhkan oleh peserta didik agar lebih siap bersaing di masa depan.
Agenda pelatihan yang padat dengan materi dan penugasan membuat waktu bergulir tak terasa. Pendekatan andragogi yang lebih banyak melibatkan peran aktif peserta, games/ice break serta pemberian token (bintang) kepada peserta yang partisipatif, berhasil menjadikan suasana lebih hidup dan dinamis. Kegiatan pelatihan ditutup dengan evaluasi trainer, post-test menggunakan aplikasi kahoot.it, dan pemberian hadiah kepada peserta.
Diklat guru dan pelatihan sejenis telah menjadi agenda rutin setiap jelang tahun ajaran baru. Dengan memanfaatkan jeda liburan, diharapkan para guru dapat lebih maksimal membekali diri dan mengasah skill dalam kegiatan ini. Dua hari rasanya tak cukup untuk menggali ilmu dari kedua pemateri. Meskipun beberapa bahasan terdengar akrab di pendengaran, selalu ada lebih banyak lagi hal baru yang peserta dapatkan. Semangat pun kembali terbarukan.


No comment